Tulisan Risvi Khoumeiny

Just another blog

Pemaksaan oleh Muhammadiyah

Cerita ini berawal pada saat saya datang berkunjung ke rumah teman, tetapi teman saya tidak berada di tempat, sayapun memutuskan untuk menunggunya.Saya melihat adik teman saya sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Sambil mengisi kekosongan, sayapun mengajaknya berbicara. Beginilah isi dari obrolan tersebut,

Saya: “Sedang mengerjakan tugas apa dik?”
Adik_teman: “Tugas kuliah AIK kak..”
Saya: “AIK itu apa?”
Adik_teman: “Agama Islam Kemuhammadiyahan”
Saya: “lho kamu bukannya sudah semester atas? kok masih ada Ilmu Agama?”
Adik_teman: “oh ini AIK III, di Unmu itu AIK sampai yang ke-IV”
Saya: “Apa ini mata kuliah wajib? maksudnya, kalau ga ikut, apa tetap bisa lulus?”
Adik_teman: “Ya ga bisa lulus, mata kuliah ini wajib, ga bisa wisuda kalau ga ikut”
Saya: “Ya sudah selamat mengerjakan, semoga cepat lulus”

Sayapun tertegun, AIK.. AGAMA ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN dan hal ini berlaku wajib sehingga tidak memungkinkan seseorang untuk lulus menjadi Sarjana jika tidak menempuhnya.

Dari hal diatas, Universitas Muhammadiyah tidaklah demokratis seperti yang saya bayangkan. Mereka mendidik mahasiswanya untuk menjadi kader muhammadiyah masa depan dengan mewajibkan mata kuliah ini.

Mari kita buktikan, anda tau Playstation kan? pernah memainkannya? Jika kita memainkan game tertentu, ada tingkatan yg memberi tingkat kesulitan tertentu juga, seperti Easy, Medium, Hard & Expert.

Hal inilah yg saya rasa dicontoh oleh Universitas Muhammadiyah.,
AIK I     = Level Easy
AIK II   = Level Medium
AIK III = Level Hard
AIK IV  = Level Expert

Setelah lulus dari ilmu Agama Islam Kemuhammadiyahan di Level Expert itu baru para mahasiswa siap terjun ke masyarakat dengan menjadi kader muhammadiyah.

Lho kok kader muhammadiyah? Ya iyalah! mereka kan dijejali ilmu Agama Islam Kemuhammadiyahan! Bukan ilmu Agama Islam yg demokratis, sehingga jika berdebat tentang Agama Islam di depan umum, mereka tentu akan menggunakan ilmu yg didapat dari jenjang kuliah bukan?

HEBAT! Saya salut dengan cara Muhammadiyah. Bayangkan saja, yang bayar kuliah siapa? yang untung mendapatkan kader gratis siapa? anda jawab sendiri.

Jawaban Muhammadiyah pasti akan se-simple ini, “Kalo tidak mau, ya jangan kuliah di Universitas Muhammadiyah saja, gampang.”

Hey bung! tidak segampang itu!.. Saya salut karena Universitas Muhammadiyah adalah termasuk Universitas swasta yg murah, sehingga banyak golongan mendaftar masuk.

Tapi caranya bukan dengan memberikan ultimatum “Jika anda tidak lulus Level Expert = NO WISUDA” huh?? memang, mungkin bahasa yg digunakan selalu lebih halus seperti “Harus lulus seluruh mata kuliah yaa..”

Saya merasa kasihan dengan masa depan muslim yang berada di Indonesia ini, Universitas Muhammadiyah melakukan pemaksaan terselubung! Tidak ada niat untuk mencetak “Anak bangsa yang berkualitas”.

Lalu apa yang saya harapkan? Yang saya harapkan adalah Universitas Muhammadiyah mencabut status “WAJIB” terhadap mata kuliah AIK tersebut.

Tidak semua orang pasti ingin mengikuti “Kemuhammadiyahan”, mungkin mereka diam karena terpaksa, bisa-bisa di Drop Out.. Jadi, ikut arus saja.

Tenang saja, saya bukan orang NU kok!, saya bukan orang yg ikut dalam suatu golongan dalam Islam, kenapa?

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Umat Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, umat Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, seluruhnya berada dalam neraka, kecuali satu.” para Sahabat bertanya, “Siapakah satu golongan itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Dia adalah Al-Jamaah.”

Saya cukup mengerti apa yang di maksud dengan “Al-Jamaah” tersebut., Yaitu orang-orang yang mengikuti ajaran Rasulullah (bukan golongan/organisasi Al-Jamaah!).

Apakah Rasulullah pernah mencontohkan untuk membuat golongan atapun organisasi? jawabannya gampang, TIDAK!

January 22, 2008 - Posted by risvi | Islam | | 2 Comments

2 Comments »

  1. hi…saya mau ikutan berpendapat ya….saya setuju bila tidak seharusnya Islam terpecah belah menjadi golongan2….memang benar Rasulullah tak pernah mengajarkan adanya organisasi untuk menyebarkan islam, karna beliau tau itu akan menyebabkan perpecahan…tapi….anda tau dari mana kalau universitas muhammadiyah memaksakan mata kuliah kemuhammadiyahan?saya rasa anda salah mengerti.saya rasa mata kuliah itu ada ya karna untuk menunjukkan identitas muhammadiyah semata…memberi tau bagaimana muhammadiyah tersebut.mata kuliah ini termasuk mata kuliah untuk membentuk aqidah mahasiswa2nya,makanya mnjd syarat klulusan…kalau tertarik ya…bagus…mungkin bs jadi kader dan penerus bangsa yang berakhlak baik dan kalu ga tertarik ya ga masalah…ga ada paksaan sama sekali…

    Comment by feni | March 28, 2008

  2. Mengenai pendapat Anda, sya setuju. Mungkin seharusnya muhammadiyah lebih fleksibel dalam melahirkan generasi islam masa depan. Tidak hanya berorientasi menciptakan kader internal yang hanya melahirkan penerus-penerus organisasi yang jumuda dan untolerant.

    But kok masih ada ya, di jaman sekarang yang mambahas hadis; umat islam akan terbelah menjadi sekian golongan, 72? 73? mohon diperiksa kemabali keabsahan hadits tersebut. dalam studi kami itu adalah hadits dhaif yang digunakan untuk memecah belah ummat sehingga umat islam memandang bahwa dengan keragaman organisasi, merupakan perbedaan akidah yang menjurus kearah surga dan neraka!

    hentikan eksploitasi ahdits yang tidak beralasan dan hanya menyempitkan pandangan umat islam terhadap sesama muslim. Itu hadits yang membuat kita jadi picik dan bertentangan dengan dalil lain yang menyatakan bahwa; Perbedaan diantara umat isalam adalah rahmat.

    CMIIW

    Comment by benny2007 | July 17, 2008


Leave a comment