Tulisan Risvi Khoumeiny

Just another blog

Siapa mau mencontoh?, Ilmu Investasi ala Bakrie

Pertama saya ingin bercerita tentang lumpur Lapindo, ada dua versi yang berkembang tentang meluapnya lumpur ini. Pertama, adalah kesalahan eksplorasi dan kedua adalah akibat gempa. Menurut saya, versi ini salah semua.

Inilah versi saya yang tentunya versi pribadi. Jika melihat lokasinya, eksplorasi ini terletak diantara 2 jalan penting,
1. Jalan tol satu-satunya yang menghubungkan Surabaya-Gempol.
2. Jalan utama Porong yang menghubungkan Surabaya-Pasuruan-dst dan Surabaya-Malang-dst.

Mungkin, beginilah kira-kira versi singkatnya percakapan yang terjadi antara Pimpro eksplorasi dan si Big Bos,
Pimpro: Wah, bos, ternyata kandungan gas nya sedikit, hanya untuk 30 tahun-an saja. Jadi keuntungannya kurang.
Big Bos: Oh ya? kalau begitu sabotase saja, toh lokasinya strategis, masalah lain, nanti bisa diatur.

Dan kemudian, luberlah lumpur dari eksplorasi tersebut, yang katanya tidak akan berhenti hingga 30-an tahun. Apa ruginya? tidak ada. Jangan pernah menganggap PT. Lapindo Brantas kemudian merugi begitu saja. 30 tahun lagi, lokasi ini akan menjadi salah satu lokasi penting di Jawa Timur.

Ditambah lagi, yang dibayar barulah sekedar uang muka 20% dan itupun tidak semua terbayarkan + luberan lumpur tersebut sudah menahun. Pembelian dagelan macam apa ini? Tidak heran kalau banyak perusahaan lain yang menginvestasikan sebagian uangnya kepada Bakrie, dengan harapan “pesan tempat” di Porong.

Selain saham beberapa perusahaan lainnya, ini salah satu sebab mengapa Bakrie tiba-tiba melonjak drastis kekayaannya. Ya kekayaan ribuan hektar tanah yang berlokasi sangat strategis itu! Inilah salah satu cara investasi jangka panjang dan dengan pengembalian yang fantastis. Enak kan?

Tolong dong, kalau ada info, Saya ingin membeli tanah dengan ukuran 5 x 5 meter, yang jika saya menggali-nya, berpotensi menyemburkan lumpur dan menenggelamkan daerah sekitarnya, kalau bisa di daerah Menteng, Jakarta.

Pasti banyak investor yang mau mendanai saya untuk mengganti sekedar 20% uang muka untuk tanah dan bangunan yang terendam. Saya tidak akan langsung bayar kerugiannya, tapi harus melalui diskusi yang alot dan berlama-lama. Toh, saya bisa berkilah, “setelah beberapa tahun, yang di Porong saja bisa bayar 20% dulu, masa saya harus langsung lunas??“.

January 25, 2008 - Posted by risvi | Kontroversi | | No Comments Yet

No comments yet.

Leave a comment